SEBUAH PERJALANAN, SEBUAH MUHASABAH [Part One]

Mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita. Bukan ingin riya', bukan ingin merasa lebih baik dari yang lain. Saat ini, connect dengan sangat kuatnya, kembali merasakan rasa yang saat itu mengalir di darahku, nafasku, diriku, walaupun aku tidak ikut kali ini. Tapi saat ini, semua rasa dan semua memori terpanggil kembali, karena vibrasi dan koneksi yang kami miliki.. Alhamdulillah. Hanya ingin berbagi.. Smoga bermanfaat..

------------------------------------------------------
SEBUAH PERJALANAN, SEBUAH MUHASABAH

Part One



Desember lalu. Tiada berani mengucap satu kata pun pada siapapun, akankah aku jadi berangkat, bersujud di tanah Alloh, saat itu. Aku hanya berani berdoa. Dan berbagai ujian pun datang. Dari pembayaran, sulitnya melakukan suntik, kartu yang dikirim entah kemana rimbanya selama seminggu, ayah tercinta yang harus masuk rumah sakit saat mendekati tanggal keberangkatan, dilanjutkan dengan jadwal jaga di rumah sakit, lalu si kecil yang belum approve untuk ditinggal, pekerjaan yang masih ada saja yang harus dibereskan.. rasanya diri terbelah menjadi beberapa bagian yang rasanya mode switch on off gak karuan bergantian. Aku hanya berdoa, mengikutinya.. mengalir saja. Rasa tidak yakin itu masih ada saja..
Hari keberangkatan pun tiba.. Berpamitan dengan my beloved dad yang masih terbaring di rumah sakit itu adalah berat. Aku tidak tahu sama sekali apa yang akan kutemui di sana, dan aku juga tidak berani membayangkan apapun yang kutinggalkan di sini. Dilanjutkan dengan pamit kepada my little girl. Masih menjelang subuh jauh, harus kubangunkan.. dan bukan cuma air matanya, tanganku ditarik selama hampir sepuluh menit dengan kata-kata "Mama jangan pergi.." Ya Alloh, ya Robb, aku hanya bisa berusaha membatukan hati, memberikan pengertian, menjauh dari pelukannya, karena akan semakin memberatkan aku untuk berangkat.. Suamiku tercinta yang akhirnya bisa menyerahkan my little girl kepada ibuku, hand over. Ngebut dari rumah ke bandara, yang ada di kepala cuma blank. Sampai di airport, antrian masuk gate depan sudah mengular.. dan di papan jadwal tertera bahwa my flight number is : boarding..Ya Alloh, bila kami tertinggal pesawat ke Jakarta ini, maka suamiku akan terlambat memberikan trainingnya, dan belum tentu kami bisa mendapatkan flight gantinya dengan cepat karena sebegitu penuhnya bandara hari itu.. Suamiku nekad, melambaikan tiket ke petugas, dan menjelaskan situasinya..., dan Alhamdulillah.. mereka meloloskan kami. Need for speed!!! Lari dari gerbang depan, passing x-ray scanner, check in, lari ke ruang tunggu.. dan nama kami sudah dipanggil.... Indeed, it was a race! Dan Alhamdulillah kami sampai di tempat duduk dengan tepat waktu, dan menangislah saya. What a day..
Alhamdulillah, kami berangkat ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, sudah dijemput oleh pihak hotel. Sungguh aku hanya mengikuti bagaikan air, mengalir, aku tak tahu akan kemana. Antara lelah, bingung, dan blank.. Wallahu Alam, aku hanya mengikuti imamku. Manasik, training berjalan dengan lancar. Bertemu banyak teman baru, ngobrol, bercerita tentang mengapa, siapa, dari mana.. Masih di tanah air, masih tiada terasa. Qiyamul Lail, persiapan, dan ketika kami akan menaiki bis itulah.. Labaik Allohuma Labaik.. jlebb, semua gambaran terlintas di kepala, yang ditinggalkan, yang diharapkan, yang akan ditemui, menyerah aku pada air mata..
Perjalanan itu pun, masih panjang. Menuju ke bandara, menanti di lounge, bergantian sholat dan antri, masuk pesawat.. Di pesawat, membantu beberapa teman baru yang baru pertama kali naik pesawat, membuat mereka nyaman dan menikmatinya, dan tidur. Serasa seperti tidur yang nikmat setelah beberapa hari ini, Alhamdulillah..
Mendarat di Jeddah, antri imigrasi. Beyond everything, flashing back memories, I knew I can through it. Still doing fun with friends there, giggling, and waiting, of course. Selesai imigrasi, kusempatkan mengabadikan sequence di bandara, untuk dikirim ke Fia Ica..
Masuk bis, terlelap sebentar sambil mendengarkan sang muthowif.. And I suddenly awaken. My Lord, where is it, itulah aku ucap saat itu. Kebetulan saat itu aku duduk sendirian dalam bis, dan aku pun menikmati kesendirian itu.. Tersadar aku, ketika sang muthowif mengatakan, sesaat lagi kita akan memasuki kota Makkah..
Dan.. tampaklah semua cahaya indah itu.. di langit malam Makkah yang indah.. Semakin dekat.. semakin terasa indahnya.. Alloh, Ya Alloh, aku benar di sini adanya.. Dan seketika tampak di hadapanku menara itu, cahaya itu, Ya Alloh, luluh lantak aku, mohon ampun aku pada Mu, hanya Dirimu lah Ya Alloh yang telah membawaku ke sini.. Fokus pada Alloh semata, semua energi yang terpancar dari cahaya itu seakan terserap oleh diriku dan aku pun meleleh.. Di situlah, aku baru yakin seyakin-yakinnya.. Ternyata memang aku berada di Tanah Suci, entah bagaimana caranya dengan segala kuasa Alloh, aku di situ..
Dari titik itulah, aku fokus dan melupakan hampir semua yang kutinggalkan di tanah air, hanya kepada Alloh aku akan memberikan segalanya, hidup dan matiku... Semua yang pernah diajarkan suamiku dengan Quantum Vibration-nya, terasa sangat membantu menemukan kembali apa yang sebenarnya aku cari di sini..Fokus pada satu hal, masuk ke dalamnya, terasa melayang dan semakin kuat karena di Tanah Suci ini begitu kuat semua energi itu terasa.Dzikir, mohon ampun, tiada pernah berhenti terucap... bersama air mata. Penuh rasa, bahagia, sedih, takut, tapi yang utama ada Yakin! Haqqul Yakin.. karena tanpa kuasa Alloh tidak mungkin aku berada di sini, setelah semua yang kulalui, setelah semua perjuangan itu. Aku menyerap semua rasa yang kualami saat itu. Aku melakukan flashback perjalanan dalam visualisasiku sendiri. Perjalanan hidupku, bukan sekedar perjalanan menuju umroh ini.. Ya Alloh, apa saja yang telah kulakukan, apa saja dosa yang sudah pernah kutorehkan dalam hidup ini?Baru aku mengelilingi Al Haram, belum aku masuk ke dalamya, sudah bang bang bang bang, serasa ditampar dan dijeduk-jedukkan aku..Air mata itu tidak berhenti sedikitpun... sampai tiba di jalan utama dekat hotel..Terpana aku.. ribuan orang berbondong keluar dari Al Haram, selesai menunaikan sholat shubuh.. Ya Alloh.. mereka sebanyak ini.. ini mungkin masih sedikit dari jumlah jamaah yang sebenarnya, tapi sebegitu banyaknya. Merinding aku..
Bagaimana nanti di hari kiamat? Ada dimanakah aku?
Seberapa banyak orang yang nanti akan berjalan menuju padang Mashyar?
Allohu Akbar.. Allohu Akbar.. Allohu Akbar..
Aku luluh lantak...
[to be continued...]






FINALLY, JADI MURID SEKOLAH DI SURABAYA BENERAN!

Lha kok? Kok Akhirnya?  Bukannya pindahnya udah lama??

Hihihi itukah yang terlintas? Betul pemirsa. Pindahnya sudah mulai awal Februari 2012 lalu. Lama yak?
Daaan, baru resmi menyerahkan dokumen pindah sekolah anak-anak, kemarin ke UPTD Sukolilo. Hari ini, siang ini nanti rencananya menyerahkan copy dokumennnya ke sekolah anak-anak.

Why does it take you so long??

Begini ceritanya..  *eng ing eng...*

Once upon a time.. seorang Kurniawan *yaitu my beloved superman* yang berencana pindah ke Surabaya lagi, mengatakan pada diriku bahwa kepindahan  itu seharusnyalah di medio Februari. Eh salah bukan berencana. Tapi dipindah oleh kantornya tercinta, dulu. Kemudian, kesepakatan kami baiklah, mari kita berpindah di bulan Februari. Give me 2 weeks for preparing, baik itu sekolah dan rumah. Jiah 2 minggu, dulu 3 bulan waktu pindah dari Surabaya ke Semarang..

Akhirnya sambil membuat daftar apa saja yang harus dilakukan, saya memulai persiapan itu. Daftar itu buat 2 minggu loh.

Tapi kemudian besoknya sang papa tercinta bilang bahwa beliau harus sudah di Surabaya di awal Februari. Welahdalaaaaah, kita semua harus berangkat untuk segera pindah. Rumah gak masalah deh, tinggal semua barang. Entar balik lagi. Tapi, sekolah anak-anak? Duh puyeng senat senut deh mikirnya.

Segeralah daku telp ke Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, untuk memastikan ketersediaan bangku untuk kedua putri cantikku, Fia dan Ica. Alhamdulillah masih bisa. Langsung datang saja pada tgl 6 Februari 2012 untuk obvservasi. Kenapa musti Insan Mulia? Karena dulu Fia berangkat dari sana dan saya melihat progress yang luar biasa dalam dirinya. Waktu pindah dari SAIMS kelas 2 dulu, yang nangis malah aku. Alhamdulillah akhirnya bisa kembali ke sekolah luarbiasa itu, dan memasukkan Ica sekaligus ke sana. Hurray!!

Tapi, jangan salah, administrasi di sekolah lama kudu segera dimulai.. Segera saja daku ke bagian TU di SD Al Azhar 25 Semarang. Dari sana aku mendapatkan briefing singkat tentang how to  nya memindah sekolah krucil ini..

Jadi,sekarang saya pengen cerita *ini intinya, dari tadi mbulet aja yah kwkwwk* bahwa memindah sekolah itu tidak gampang, dan musti sabar. Terlebih lagi kalo lintas propinsi seperti ini..Di bawah aku tuliskan lengkap cerita dan step-stepnya untuk mengurus kepindahan ya. Cuman mungkin beda propisi beda lagi urusannya.. Hanya saja mungkin bermanfaat untuk dijadikan pegangan, silahkan.Oiya ini juga berdasarkan pengalaman muter-muter sayah.. jadi sebenernya step-stepnya lebih simpel, dirangkum sendiri ya..
Biar gampang noticenya, aku beri point untuk mengidentifikasi stepnya ya.

1. Langkah pertama, orang tua membuat Surat Permohonan Pengunduran Diri ke sekolah lama.
Disitu disampaikan alasan kepindahan, kemudian sekolah tujuan di tempat yang baru. Jadi kalau bisa waktu mengajukan kepindahan itu musti sudah jelas mau pindah kemana. Paling tidak sudah ada gambaran lah. Mungkin tanpa sekolah tujuan bisa juga, tetapi alangkah baiknya disertai dengan NAMA sekolah tujuan.
Ditandatangani oleh kepala keluarga, ditujukan kepada kepala sekolah. Oya surat ini jangan lupa di kopi ya. Simpan untuk arsip. Oya juga lampirkan surat keterangan mutasi atau pemindahan kerja orangtua untuk lampiran surat ini waktu mengajukannya ke sekolah lama ya. Biar mantab jaya!! Pake B!!

2. Sekolah lama akan mengeluarkan Surat Keterangan Pindah Sekolah.
Surat ini dibuat dalam kop surat sekolah lama. Apabila dalam permohonan surat kepindahan di poin satu sudah ada nama sekolah tujuan, nanti nama sekolah tujuan ini akan disebutkan di surat ini. Di bagian bawah ada bagian kecil untuk diisikan di sekolah baru, ditandatangani kepala sekolah baru, dan kemudian di fax balik ke sekolah lama untuk notifikasi bahwa anak kita sudah diterima.
Oya sedikit cerita tentang surat kepindahan dari AA25 Smg ini. Seminggu sebelum "rush week" dimulai daku sudah menghadap bapak TU dan meminta info bagaimana surat pindah ini bisa dikeluarkan. Ternyata pihak sekolah maunya mengeluarkan surat ini dalam waktu mefet day, artinya H-1. Lha kalo dikeluarkan dalam jangka waktu H-1, alamat aku tidak bisa mengurus cap-cap yang dibutuhkan untuk membawa dokumen kepindahan ini dong. Karena ceritanya  kami mau berangkat ke Surabaya tgl 4 Februari., Nanggung amat kan? Sudah masuk bulan baru. Kalau sudah masuk bulan baru berarti musti bayar SPP bulan Februari dong, sementara tgl 4 sudah berangkat? Gak mau rugi ceritanya. Jadilah aku dan suamiku memutuskan untuk mengeluarkan anak-anak itu akhir Januari. Berarti itu tanggal 31 Januari 2012. Pihak AA 25 maunya mengeluarkan surat kepindahan tgl 31 Januari juga. Well heloo, gak bisa dooong. Belum nanti ngurus ke Dinas Pendidikan Kota, Dinas Pendidikan Propinsi.. Kalau memakan waktu lama, bisa cilaka nanti. Akhirnya diputuskan surat akan dikeluarkan di hari Seninnya, 30 Januari 2012. Jadi Senin siang, Surat kepindahan anak2 sudah ditanganku. Alhamdulillah..

3.Surat Keterangan Pindah Sekolah dibawa ke UPTD Wilayah Sekolah lama berada.
Waktu itu, surat ini harus aku bawa ke UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Dinas Pendidikan Semarang Barat yang terletak di Kali banteng. Sebenernya ya deket sama AA 25 Semarang, cuman ya muter dulu di bunderan Kalibanteng. Disitu surat ini nanti di cap oleh kepala UPTD untuk diketahui ada berkas pindahan. Waktu itu, aku ke UPTD sama Ica kecil . Waktu pulang sekolah di hari Seninnya. Begitu masuk ruangan itu... ziiingggg. No body look at me. Hello? Hellow?
Heeeeeeeeeeeeellllllllllllloooooowwwwwwwwwwwwwwwwwww?? *butuh toa*
Akhirnya tendang jengkel, menuju ke meja terdekat. 'Maaf bu, mau mengurus surat pindah menemui siapakah?', tanyaku pada si ibu terdekat tadi.
Barulah beliau menengok padaku sambil teteeeep membalik-balik berkas di mejanya.
"Oh iya, " jawabnya. "Silahkan duduk," katanya padaku. Aku menoleh kiri kanan. Kursi manakah yang dimaksud beliau? Sebagai informasi, penataan mejanya di ruangan itu semuanya berbaris : satu kursi menghadap meja. Depan meja itu ada kursi lagi yang menghadap meja lain. Berderet. Dua deret kedepan, sekian deret kesamping. Ogah ngitung.
Akhirnya aku duduk sekenanya di kursi yang ada di depan ibu itu. Madep mburi. Jadi kursinya hadap ke sono, aku duduknya hadap ke beliao. Mudeng raaaak?? Begitu deh.
Lalu disuruh tunggu sebentar. Suratku diambil. Oia jangan lupa siapin map ya. Biar agak rapian *dan kerenan* dikit. Walaupun dari AA25 disiapin dalam bentuk amplop.
Setelah itu beliau beranjak. Sebelumnya ditanya-tanya dulu, dari sekolah mana, mau pindah kemana. Kemudian berkas diambil, dibawa ke ibu pejabat. Kepala UPTD-nya. Tidak berapa lama, Alhamdulillah, ibu tersebut kembali dengan berkas yang sudah ditandatangani. Terima kasih kuucapkan, aku dan Ica segera berlalu dari situ. Note : tanpa biaya ya..

4. Berkas dibawa ke Diknas Kota Semarang
Bagiannya papa ini. Jadi sudah kesepakatan, di Semarang waktu mengurus kepindahan anak-anak ini, untuk Diknas kota dan Propinsi dihandle oleh papa. Berkas kuserahkan kepada papa, dan kemudian dibawa ke Dinas Pendidikan Kota Semarang yang beralamat di Jl. Dr. Wahidin 118 Semarang di daerah Jatingaleh. Waktu itu papa bercerita susahnya mencari tempatnya karena agak masuk. Sampai sana harus melakukan fotokopi berkas sebanyak 5 kali, dan membeli map. Semuanya dimasukkan ke bagian Sekolah Dasar untuk dicap verifikasi dan mengetahui, dan waktu itu diminta ditinggal satu hari, besoknya diambil. Alhamdulillah, besoknya selesai sudah. Note lagi: tanpa biaya juga ya. Jangan coba-coba kasih salam tempel.

5. Berkas dibawa ke Diknas Propinsi Jawa Tengah
Setelah papa mengambil berkas di diknas kota, langsung menuju ke Jl. Pemuda ato Balaikota, ke Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah. Berkas yang sama diserahkan, prosesnya hanya sebentar saja. Untuk diberi cap stempel diknas propinsi, mengetahui kepala Seksi Kurikulum (it says on the stamp) .
Sampai disini proses "pamitan" dari propinsi Jawa Tengah selesai sudah. Tinggal membawa semua berkas itu ke Propinsi Jawa Timur untuk proses "kulonuwun" ... Semua proses di atas adalah tanpa biaya sodara-sodara. Upeti yang daku serahkan hanya kepada TU AA 25 Semarang sebagai rasa terimakasih, berbentuk kue saja...

6. Memastikan pendaftaran anak-anak di SAIMS
Urusan berkas nanti dulu. Simpan di tas yang ikut dibawa ke Surabaya (pastikan hal ini yah, jangan sampai ketinggalan di kota asal.. heheh), dan mari kita berangkat ke Surabaya. Tgl 4 Februari, Jumat, kami berangkat ke Surabaya. Anak-anak sudah tidak bersekolah mulai tanggal 1 Februari sampai 4 Februari. Schoolless..hihihi.. Gapapa lah daripada sutris urusan pindahan biarlah anak-anak rehat dulu. Kepindahan ini harus terjadi pada waktu Fia kelas 5 ini, karena nantinya di kelas 6 dia (harus) sudah bisa beradaptasi dengan sekolah dan teman-teman yang baru.
Kemudian sesuai janji yang telah kami sepakati dengan SAIMS, tgl 6 Februari hari Senin, kami - aku, Fia, Ica, ditemani Mami (mymom) - berangkat ke SAIMS. Sampai di SAIMS berjumpa dengan mba Nita, bagian administrasi dan Ustadzah Fitri, untuk memasukkan berkas dan raport dari AA25 Semarang. Maksud hati hari itu melakukan pembayaran dan pendaftaran sekaligus. Tetapi pihak SAIMS mengatakan, marilah kita observasi dulu untuk si kecil Ica ini. Observasi dilakukan hari itu bersama Ustadzah Zahra, tapi Ica masih malu-malu saat itu. Ica sedikit marah soal kepindahan ini, karena sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan teman-temannya di AA 25 Semarang .
Yang harus dilakukan saat itu sebagai orang tua adalah bertahan dengan rencana itu. Proses adaptasi Ica akan berlalu, berakhir dan dia akan sangat enjoy di SAIMS. Aku yakin sekali atas hal itu. Karena aku sudah mengenal SAIMS, aku membiarkan saja Ica melakukan protes dan mogok, di saat observasi itu. Akhirnya dijadwalkan keesokan harinya Ica observasi dari pagi.

Fia terhitung sebagai murid lama karena dia bekas murid di sana, jadi tidak perlu observasi. Bahkan hari itu Fia sudah boleh menuju kelas untuk bertemu dengan teman-temannya. Aku juga bertemu dengan Ustad Eko, guru kelas 5 waktu itu, untuk membicarakan beberapa program kelas 5 yang sudah berjalan, dan akan berjalan. Krusial, karena Fia langsung akan bergabung. Selasa 7 Februari 2012, Fia sudah boleh langsung masuk sekolah, tanpa perlu memakai seragam. Sementara Ica melakukan observasi sekali lagi.
Sebenarnya Ica sudah protes melihat kakaknya kok sudah boleh sekolah. Dia juga ingin sekolah tampaknya.
Aku memberikan pengertian kepada Ica bahwa kalau proses observasi hari Selasa itu sudah dilaluinya, Ica sudah boleh masuk sekolah besoknya. Ustadzahnya mengiyakan. Akhirnya proses observasi di SAIMS berjalan lancar, sementara masih saja Ica protes, kok kakak sudah masuk, aku kok belum. Sudah berubah dari kemarin yang super mogok, hehehehe...

Keesokan harinya, Ica sudah boleh masuk sekolah. Sementara proses pendaftaran masih dilakukan, aku belum melakukan pembayaran apapun kepada SAIMS. Saking aku bingung ini musti gimana, kok anaknya sudah boleh sekolah duluan sementara si mbok belum melakukan pendaftaran yang bener dan pembayaran. Hebatnya SAIMS mengutamakan kepentingan anak-anak di atas segala tetekbengek adminsitrasi. Super salut buat SAIMS.
Hari Rabu, 8 Februari 2012, Ica sudah masuk sekolah tanpa ngek ngek lagi. Tidak pakai protes. Langsung mengikuti kegiatan di sekolah. Pulang sekolah jam setengah 4 sore, ceritanya tidak ada habisnya. Panjang lebar, takjub. "Kok ada ya ma sekolah kayak gini?" itu katanya.
Keajaban Sekolah Alam. Semua aktivitas fisik yang dijalaninya rupanya memicu rasa ingin tahunya. Aku yakin aku tidak akan ada masalah dengan adaptasi Ica.

Kamis, 9 Februari 2012, ganti Fia yang mogok sekolah. Rupanya Fia belum bisa beradaptasi dengan gaya baru - atau sebenernya gaya lama belajar yang sudah ditinggalkannya -, di SAIMS. Akhirnya aku konsultasi dengan pihak SAIMS, it was okay. Tidak masuk hari itu. Sementara Ica dengan santainya berangkat sekolah, eager to see what happened today. Besok Jumatnya, 10 Februari 2012, Fia masuk dengan Ica, cuman Fia aku jemput lebih cepat  karena ternyata  memang ada keluhan dengan perutnya. Biarlah, adaption process. It will passed.

Minggu berikutnya, barulah proses pendaftaran terselesaikan. Anak-anak juga sudah mulai mengerti what to do, how to learn. So I think soal anak-anak sudah beres. Sudah mulai banyak temannya. Berkas dan raport asli dikembalikan padaku, untuk dibawa ke diknas. Pihak SAIMS menyampaikan bahwa urusan tetek bengek perpindahan cabut berkas dan masuk berkas ini harus dilakukan oleh orang tua sendiri, ketentuan baru tahun 2012. Jaman dulu masih bisa dilaksanakan dengan bantuan sekolah asal atau sekolah tujuan baru.
 Well, the night mare was about to began..  My nightmare, indeed..

7. Membawa berkas ke UPTD Sukolilo terlebih dahulu--> langkahku yang salah
Jadi sesuai info dari SAIMS, aku bawa berkas ini ke UPTD. Mungkin dikira pihak sekolah berkasku dah beres jadi langsung bisa masuk UPTD. Ternyataaa ooooh ternyata sodara-sodara, berkasku masih belum selesai keliling dunianya...Di UPTD Pendidikan Kec. Sukolilo (kenapa Sukolilo, karena di Kecamatan Sukolilo ini SAIMS terdaftar). Lokasinya di Jl. Manyar Kertoarjo III, belakang Primarasa Kertajaya. Sampai sana, ternyata berkas ku itu harus dibawa ke Dinas Pendidikan Propinsi Jatim Jl. Genteng Kali dulu. Jadi proses yang dilakukan dibalik disini. Dari semarang : UPTD - Diknas Kota - Diknas Propinsi - masuk Jatim : Diknas Propinsi - Diknas Kota - UPTD. Proses pamitan vs proses kulonuwun. See the pattern? :D
Nah, didalam berkas itu harus lengkap, yaitu terdiri dari :
1. Surat Keterangan Pindah Sekolah (yang dikeluarkan di sekolah lama, yang dilembar ini nantilah cap cap bahenol itu diletakkan)
2. Surat penerimaan Murid dari sekolah baru (di surat ini ada kolom :"Mengetahui by kepala dinas UPTD Sukolilo"
3. Surat permohonan pindah sekolah dari orangtua (persis kaya yang diserahkan ke sekolah lama)
4. Fotokopi raport semester terakhir
5. Surat Keputusan penugasan orangtua (untuk penegasan alasan kepindahan)
6. Surat Keterangan Domisili (yang dikeluarkan oleh Kelurahan tempat tinggal kita yang baru)

Nah, yang bikin nightmare adalah surat ke-6 ini.. *tutupmuka pake bantal aja deh* - nanti aku jelaskan di bawah.
Akhirnya aku ngibrit pulang lagi untuk melengkapi semua itu. Masih ada untungnya aku nyasar ke UPTD sehingga tahu surat-surat yang musti dilampirkan. Kalau gak bisa bolak balik di step berikutnya.


8. THE ULTIMATE NIGHTMARE : Mengurus Surat Keterangan Domisili part 1
Puyeng. Sumpah puyeng. Bagaimana tidak. KTP dan KK kami masih beralamat di alamat rumah lama sewaktu kami belum pindah dari Jawa Timur, yaitu di Deltasari, yang notabene masuk Sidoarjo. Ini tidak bisa dibenarkan untuk masuk ke sekolah di Surabaya, karena kebijakan baru yang menyatakan bahwa sekolah di Surabaya (SD-SMP-SMU, khususnya) diutamakan untuk warga Surabaya. Nah lo. Jadilah aku harus mengurus surat domisili ditempat tinggalku sekarang, di Pakuwon Indah. Memang Pakuwon Indah termasuk Surabaya, kami diminta tinggal dulu disini karena rumah di Pakuwon Indah ini kosong, sementara rumah di Deltasari masih ada pengontrak.
Satu, gak mungkin dong mengusir pengontrak dari rumah Deltasari lalu menempati sana, Jadilah kita masuk ke rumah Pakuwon Indah.
Dua, meskipun tinggal di Deltasari, tapi tetep aja harus memiliki surat keterangan domisili DARI KELURAHAN YANG TERLETAK DI SURABAYA. Mboh kelurahan mana pokoke kelurahan yang ada di daerah Surabaya. So? Mau gak mau pergilah kami menghadap pak RT di Pakuwon Indah.
Kepada pak RT, kami menjelaskan panjang lebar, alasan kepindahan dan lain-lain. Pak RT no probleum  mengeluarkan surat pengantar ke kelurahan Babatan untuk menerbitkan surat domisili ini, walaupun kami tidak ada surat pindah. Tetapi, bagaimanapun tergantung pada Kelurahan nanti keputusan akhirnya. Pak RT cuma meminta bukti bahwa kami bertempat tinggal disini. Misalnya dengan copy-an akte tanah atau PBB. Oke, nanti ya Pak RT. Nanti kita submit. Mau ke kelurahan dulu.

Dikelurahan, kami ditolak dengan sukses. TIDAK BISA!! Harus ada surat pindah yang aseli dan benar-benar tinggal di Surabaya. Tidak boleh abal-abal, tidak boleh nembak, tidak boleh salam templek, tidak boleh nyogok, tidak boleh ngerayu Lurah, dan tidak boleh  pingsan di kelurahan.
Lemah lunglai kuyu tolol hampa marah sebel jengkel, keluar dari kelurahan. Pikir lagi mumet, gimana. Masa mau nitip anak-anak di KK sodara? KK Paman? Sebelnya lagi, di rumah ini yang atas nama ayahku, juga tidak ada KK nya. Gubraak. Kalau ada kita bisa nitip dengan model "ikut kakek", alamatnya bener.

 Tapi kita mau nekat jaya deh. Surat keterangan dari RT itu tadi kami lampirkan di berkas kepindahan Fia Ica. Yuk mari kita lanjutkan.

9. Menuju ke Diknas Propinsi Jatim
Kemudian beberapa hari kemudian aku pergi ke Diknas Propinsi Jatim di Jl. Genteng Kali Surabaya. Di sana menuju bagian Sekolah Dasar, lalu aku menunggu kira-kira 15 menit di ruangan luas ber-AC adem itu, yang diisi cuma 4 orang karena lainnya sepertinya masih istirahat siang. Gak tau lagi kalo memang isinya cuma 4 orang itu. Surat diperiksa cepat, distempel, ditandatangani. Aku sempat ditanya, anak-anak sudah sekolah belum. Aku jawab, sudah *nekad, padahal nervous sangat.Takut kalo dimarahin hihihi*. Tapi, bapak yang baik itu mengatakan, bagus, anak-anak memang harus sekolah dulu daripada harus menunggu proses administrasi yang lama ini. Kasihan.
Di sini satu rangkap berkas ditinggal untuk arsip Diknas Propinsi.

 10. Menuju ke Diknas Kota Surabaya
Lha ini. Di sini inilah. Pergi ke Diknas Kota Surabaya di Jagir Wonokromo. Menemui bagian Sekolah Dasar, lalu aku segera menyampaikan berkas. Diteliti satu persatu, eeeh ketauan itu surat domisili dari pak RT. Tidak boleh... huhuhuhuhu. Musti balik lagi dan menyerahkan surat domisili yang bener.
Huaaa huaa huaaa, nangis bombay lemah lunglai lagi.. Tapi ya emang salah sih wkwkwkw...

11. Mengurus Surat Domisili part.2

Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, mau tak mau.. Proses cabut berkas dari kelurahan di daerah Deltasari pun dilakukan. Aku minta tolong pada satpam rumah Deltasari yang sudah seperti family, karena dia jugalah yang mengurus rumahku selama aku di Semarang. Titip uang 300rb kepada dia, langsung diuruskan cabut berkas mulai dari Kelurahan sampai Dispenduk Sidoarjo. Alhamdulilaaaaah, beres. Tinggal ulangi lagi masukin ke pak RT. Terus ke kelurahan. Sampe di kelurahan dikasih tau : buk ini dibawa ke dispenduk surabaya dulu, nanti ambilnya di kecamatan di kasih tahu. Welahdalah, opo meneh.
Eh jangan salah ya, semua proses ini kira-kira  3 bulan lamanya.

Tapi untunglah sampai di kelurahan ini, bisa dikeluarkan Surat Keterangan Domisili atas nama Fia dan Ica. 
Wiiiiih, sorak-sorak bergembiraaaa bener deh. Meskipun besoknya baru bisa diambil surat keterangan domisili ini, tapi apalah arti menunggu satu dua hari lagi setelah perjalanan panjang ini huehehehe...

Setelah itu berkas pindah rumahnya tetap dilanjutkan ke Dispenduk dan Kecamatan. Tapi marilah kita fokus kepada berkas kepindahan ini, shall we?

12. Kembali lagi ke Diknas Kota Surabaya
Berkas siap, daku kembali ke Diknas Kota Surabaya. Sampai sana menemui bapak yang sama. Berkas disimpan, diberi tanda terima aka kertas karton kecil bertuliskan nomor pakai spidol.... *oh sistem sederhana ini, betapa Indonesia sekali*. Besoknya aku balik lagi ke sana, untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani, dengan menyerahkan kertas bernomor tadi. Alhamdulillah sudah selesai, legaaa rasanya hatiku. Di sini berkas juga ditinggal satu rangkap.

13. Kembali lagi ke UPTD Sukolilo
Akhirnyaaa, kemarin pagi menuju UPTD Sukolilo. Sebenarnya sudah bisa aku lakukan beberapa waktu yang lalu, dasarnya males.. *ngaku* .. Dan juga ketimbun pekerjaan *alesan*.:p
Di UPTD ketemu dengan ibu yang dulu memberiku briefing. Untungnya nama ibu pejabatnya masih sama, kalo tidak urusan lain lagi deh bisa ganti surat pulak. wkwkwkk..
Dua puluh menitan menanti, hanya karena ngantri di meja ibu tersebut. Sebab beliau masih mengurusi si embak anak buahnya yang datang duluan membicarakan masalah pekerjaan juga. Ya sudah namanya juga tamu.. :)
Dicek sekali lagi berkasnya, disiapkan untuk ditandatangani ibu pejabat, lalu dibawa ke sana. Lima menit kemudian aku sudah menuliskan nama kedua anakku sebagai siswa masuk di Surabaya, di dalam sebuah buku besar milik mereka.

Alhamdulillah.. hurray... senengnya hatiku.Lega. Beban terangkat sudah..
Oya satu catetan kecil soal NISN : Nomor Induk Siswa Nasional. Ini kabarnya diupdate online, jadi pindah kemanapun anak-anak ini punya nomor induk yang terdata secara nasional, sama. Nomor yang sama. Bukan nomor induk yang terdata di masing-masing sekolah.
Sayangnya, sistemnya belum beres juga. Jadilah nanti disampaikan secara lisan kepada pihak Saims, dan lalu cek ricek berkala untuk memastikan info dan data Fia Ica sudah ter-update secara nasional.

Baiklah! Selesai sudah. Syukur tiada terperi. Mari kita melanjutkan sekolah di Surabaya..

Ucapan terima kasih tiada terhingga untuk semua pihak yang telah membantu lancarnya urusan berkas pindah sekolah ini selama 6 bulan..

Big hug with cloudy sky here,
wind







LEARNING ABOUT BEACH

..dan suatu hari ketika papa sempat pulang ke Surabaya, kemudian mengajak kami pergi melintasi pantura, menuju Semarang. Kami melewati pantai Rembang - yang aku tak tahu namanya - tapi cukup indah, asri dengan pohon-pohon di depannya, kemudian pantai putih di belakangnya.

Sekarang lokasi ini sudah dipercantik, tidak "raw" seperti dulu.. tetapi lebih indah dan lebih mudah diakses.

Sampai sekarang momen-momen indah itu tetap terekam, dan sayangnya catatan perjalanan ini - berlembar-lembar halaman blog - lenyap tak berbekas tanpa sempat terselamatkan karena blog friendster di hapus.
Bodohnya aku tak memperhatikan peringatan waktu itu, mereka sudah memberikan waktu untuk back up, but I did not aware about it. Hilanglah semua...

Waktu itu di sana, Fia dan Ica belajar bermain tentang air dan pantai. Kami berempat menikmati waktu dan jalan-jalan di sana - walau panas hooh - tapi biarlah. Anak-anak senang, apalagi Fia. Ica masih sempat merengut tak mau turun ke sana. Ombaknya cukup besar, jadi Fia tak bolehlah terlalu ke tengah.

Pantainya berbatu-batu, harus berjalan perlahan-lahan.. tapi Fia, very very enjoy with her self..

Biarlah akhirnya foto yang berbicara..





Crawling my memories,
wind

And The Story Began.

Hiya, and the story began.

Cerita punya cerita kenapa aku terdampar di Surabaya adalah, karena aku sudah didamparkan lebih jauh lagi di Semarang sono.

Jauh melampaui  batas waktu, seperti yang sudah akan kumulai di dokumen itu. Susahnya memulai cerita.

Awalnya adalah sebuah pertanyaan, kalau itu tidak boleh dibilang sebagai pertanyaan :
"Ma, aku dipindah ke Semarang, bagaimana?"

Melongo.
Melotot. Pengen ikut.
Ya iyalah siapa yang pengen ditinggal suami jauh-jauh. Yang jelas kemudian berlangsunglah pembicaraan lama dan panjang yang berakhir pada keputusan bahwa sang papa harus berangkat duluan dan let's see what happened there after he moved.

Begitulah.
Papa berangkat duluan. Tiga bulan lebih rasanya, - aku lupa tepatnya - papa pulang balik antara Semarang - Surabaya. Beribu doa setiap kali dia musti berangkat, baik itu bawa mobil sendiri, atau naik taksi untuk ke tempat pool bus ke Semarang. Rasa takut menyergap datang kala harus menemani anak-anak sendirian dalam seminggu, bisa lebih. Tak setiap minggu papa bisa pulang ke Surabaya, of course.
Belum lagi yang namanya suudzan, masyaalloh. Kalau kita sedang sendiri itu lalu dikuasai oleh pikiran-pikiran buruk, duh capek sekali. Dampaknya bisa kemana-mana. Kadang nangis sendirian di kamar, kadang musti bingung mau ngapain. Exhale-nya ya dengan berdoa lagi deh, semoga Alloh memberikan kelapangan dan keluasan hati pada suamiku, memberikan kebaikan dan dijauhkan dari yang mudarat, yang haram, dan yang berbahaya. Memberikan ketentraman pada suamiku untuk selalu kembali pulang.

Gitu aja deh simple. Tentram lagi, Alhamdulillah. Tinggallah lalu berkutat dengan kesendirian mengurusi anak-anak, walaupun ada mbak-mbak yang menemani. Tapi beda lah ya, namanya juga suami.
Antar jemput kakak ke sekolah.. sempet dengan motor, bawa mobil juga. Kalau sudah naik mobil si kakak tidak mau turun bila sampai di rumah, karena kecapekan, karena sudah ketiduran. Dan menurunkannya dari mobil itu adalah perjuangaaaan sekali..

Ah sudahlah. Sudah berlalu.. Yang jelas ada kemunduran aku lihat dari si kecil. Yang tadinya bermanja-manja pada papanya, sekarang setiap kali papa pulang, dia tidak kenal. Baru mau disayang dan dipeluk papa minggu sore, ketika papa musti balik lagi ke Semarang. Berbulan-bulan begitu..

Tidak bener lah ini namanya..
Akhirnnya kami kembali berbicara berdua. Duduk dan bicara banyak hal, bahwa sebaiknya tidaklah baik anak-anak kami ini terlalu jauh dari ayahnya. Ibunya pun juga, *ehem* tidak baik terlalu jauh dari suaminya. Ya to?

Jadilah, diputuskan, okaaaay, here we go, pindah ke Semarang semua yak.
Alhamdulillah. Apa yang lalu mesti terjadi?
Ya jelas, bongkar seisi rumah. Apa yang musti dibawa dan apa yang tidak. Itu membutuhkan waktu 3 bulan dengan bersantai-santai, dengan arti tetap melakukan daily activity. Yang ini dikirim, yang ini dikasih orang, yang ini dibungkus, yang ini dititipkan rumah mami..

Oya, Mami, is my mother. Anak-anak tetap memanggilnya mami, biar awet muda kata Beliao. *tutupmuka* hehehe

Well well well..
And here came the day... Berat rasanya hatiku meninggalkan rumah itu, tapi sudahlah.. itu yang harus dilakukan..





Ica di masa sebelum pindah ke Semarang


Fia, kelas 1 SD, masih ditinggal-tinggal papanya.. ini main di pantai rembang, perjalanan berangkat ke Semarang,



**(to be continued)**

It is about a Journey..

Journey of life.

Some people does not recognize that their life is passed away as soon as they do exhaling.
There are some prestigious  moment that might be not captured well as it should be. Most people live it and leave it just that way.

In some other reason, they choose to live naturally, in order to make their life not to overwhelming and still on their track. Some people. Ya, like my husband said to me, leave it as usual *it getting personally huh*.

Not to happy too much, not to sad too much. Be flat. Flat?

For me, flat is not the word. Jumping through emotion is something usual that I did. But it is not good, friends, yes it was not good. We can also breath - inhale exhale - in our life, without jumping.

Smile, is always the best cure to heal the sadness or the happiness that come early or too much. Might be that would be the best solution to cover "too much" feeling when you passed the day.
Is that wrong to feel too much?
Or is that wrong not to feel too much?

Indeed, no one will say it right, or might be wrong. *oh dear I had watch "Sex in The City too much so I will  adopt Carrie Bradshaw's narration here*




Just, take it enough. Not too much, not to less. We can capture it smoothly by camera, or just leave it in our memory.
 Talking about it enough. Reacting of it enough. Speaking of it enough.

Then, leave it behind. It is not about the matter in front of you, it is about how do you react about it.
Seriously.

*do you have any idea, what did I have talked about??
Biiiiigg Griiinnnn...

wind
surround by hollow.

Sharing with My Best Friend, today..

 Hmm..
just got a Whatsapp message from my beloved best friend Fenny Setiawan at Malaysia, that today my little notes that especially I wrote for her, will be loaded to her lovely blog..




Check them out at  F for Fabulous here
It is really nice to write for someone I love much..
The cake is exactly the same like I posted at my previous pic here.

Thank you Fenny for the opportunity, can't wait for another masterpiece *ahay* for you.. hehehe


UPDATE AT RUMAHKUEICA

Now available :

Update at Rumah Kue Ica - Many great and beautiful story, and delicious  cakes!!

Check it out..!!